Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan

Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya dan masyarakat. Pendidikan meliputi pengajaran keahlian khusus, dan juga sesuatu yang tidak dapat dilihat tetapi lebih mendalam yaitu pemberian pengetahuan, pertimbangan dan kebijaksanaan. Salah satu dasar utama pendidikan adalah untuk mengajar kebudayaan melewati generasi.Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (1991:232), pendidikan berasal dari kata “didik”, lalu diberikan awalan kata “me” sehinggan menjadi “mendidik” yangartinya memelihara dan memberi latihan. Dalam memelihara dan memberi latihan diperlukan adanya ajaran, tuntutan dan pimpinan mengenai akhlak dan kecerdasan pemikiran. Terbentuknya karakter (kepribadian) manusia ditentukan oleh 2 faktor, yaitu (1) nature (faktor alami atau fitrah), (2) nurture (sosialisasi dan pendidikan). Pengaruh nature. Agama mengajaran bahwa setiap manusia mempunyai kecenderungan (fitrah) untuk mencintai kebaikan. Namun fitrah ini adalah bersifat potensial, atau belum termanisfestasi ketika anak dilahirkan.Karakter dan moral yang tumbuh disekolah akan menciptakan rasa aman, motivasi tinggi, suasana yang kondusif untuk belajar, dan sebagainya yang berimbas pada naiknya prestasi akademik siswa disekolah. Karena itu, pendidikan karakter harus menjadi bagian dari seluruh aktivitas sekolah, terutama pembelajaran di kelas.Sastra merupakan suatu kegiatan kreatif, sebuah karya seni. Hakikat sastra selalu dikaitkan dengan ekspresi sastra, baik secara lisan maupun tulisan. Sastra sebagai suatu bentuk hasil budaya tidak terlepas dari kreasi penciptanya yang cenderung dinamis; dalam arti ekspresi sastra selalu memberi kemungkinan berubah dari zaman ke zaman. Pengertian ini selaras dengan pendapat yang menyatakan, bahwa sastra pada hakekatnya sastra adalah suatu kegiatan kreatif (Wellek dan Warren, 1990:3). Sastra ialah tulisan atau khayalan dalam arti rekaan (imajinative writing in the sense of fiction) (Eagleton,1983:1)Dalam kurikulum disebutkan bahwa tujuan pembelajaran sastra dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia antara lain adalah menikmati dan memanfaatkan karya sastra untuk memperluas wawasan, memperhalus budi pekerti, serta meningkatkan pengetahuan dan kemampuan berbahasa. Melalui apresiasi sastra, siswa dapat mempertajam perasaan, penalaran, daya khayal, serta kepekaan terhadap masyarakat, budaya, dan lingkungan kehidupannya. Sastra secara hard skill maupun soft skill mempunyai peranan penting dalam mendidik karakter bangsa, sastra memiliki peran vital dalam berbagai aspek kehidupan manusia yang berkaitan dengan pembentukan karakter manusia.Berdasarkan latar belakang diatas, peneliti tertarik untuk melakukan penelitian yang berjudul ” Pengaruh pembelajaran sastra dalam pembentukan karakter siswa di sekolah dasar negri 17 pagi”Metode penelitianDalam penelitian ini penulis menggunakan metode kualitatif yakni memahami pengalaman informan kunci untuk menempatkan mereka secara tepat dalam konteks. Metode ini mengharuskan peneliti masuk kedalam setting sosial. Peneliti mebangun asumsi dari pengamatan langsung tersebut. Proses penelitian kualitatif melibatkan upaya-upaya penting, seperti mengajukan pertanyaan-pertanyaan dan prosedur, mengumpulkan data yang spesifik dari partisipan, menganalisis secara induktif, menafsirkan dan menganalisis data.Jenis penelitian yang dilakukan di Sekolah dasar negri 17 pagi ini adalah jenis penelitian deskriptif yaitu penelitian yang bertujuan untuk memecahkan maslah dengan memaparkan keadaan objek yang diselidiki sebagaimana adanya, berdasarkan fakta-fakta yang aktual pada saat sekarang ( Nawawi, 1992: p.85). Penelitian ini dilaksanakan di Sekolah Dasar Negri 17 Pagi dengan guru Bahasa Indonesia yang menjadi subjek. Teknik yang digunakan penulis untuk mendapatkan informasi atau data-data yang diperlukan, yaitu observasi dan wawancara. Observasi yang dilakukan dalam penelitian ini ialah melakukan pengumpulan data dengan terus terang kepada sumber data, bahwa peneliti sedang melakukan penelitian. Wawancara adalah suatu metode dalam koleksi data dengan cara memberikan pertanyaan-pertanyaan mengenai hal-hal yang diperlukan sebagai data penelitian. Susaan Stainback (1988) mengatakan bahwa dengan wawancara maka peneliti akan mengetahui hal-hal yang lebih mendalam mengenai partisipan dan menginterprestasikan situasi dan fenomena yang terjadi, dimana hal ini tidak bisa ditemukan melalui observasi.Pembahasan Pendidikan karakterPendidikan karakter adalah suatu sistem penanaman nilai-nilai karakter kepada warga sekolah yang meliputi komponen pengetahuan, kesadaran atau kemauan, dan tindakan untuk melaksanakan nilai-nilai tersebut, baik terhadap Tuhan Yang Maha Esa (YME), diri sendiri, sesama, lingkungan, maupun kebangsaan sehingga menjadi manusia insan kamil.  Dalam pendidikan karakter di sekolah, semua komponen (stakeholders) harus dilibatkan, termasuk komponen-komponen pendidikan itu sendiri, yaitu isi kurikulum, proses pembelajaran dan penilaian, kualitas hubungan, penanganan atau pengelolaan mata pelajaran, pengelolaan sekolah, pelaksanaan aktivitas atau kegiatan ko-kurikuler, pemberdayaan sarana prasarana, pembiayaan, dan ethos kerja seluruh warga dan lingkungan sekolah.Istilah kurikulum digunakan pertama kali pada duniaolah raga pada zaman Yunani kuno yang berasal dari kata Curir dan curere. Pada aktu itu kurikulum diartikan sebagai jarak yang harus ditempuh oleh seseorang pelari. Orang mengistilahkannya dengan tempat berpacu atau tempat berlari mulai start sampai finish.Selanjutnya istilah kurikulum digunakan dalam dunia pendidikan. Para ahli pendidikan memiliki penafsiran yang berbeda tentang kurikulum. Namun demikian, dalam penafsiran yang berbeda itu, ada juga kesamaannya. Kesamaan tersebut adalah, bahwa kurikulum berhubungan erat dengan usaha mengembangkan peserta didik sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai. Kurikulum memang diperuntukkan untuk anak didik.Pendidikan karakter dapat diintegrasikan dalam pembelajaran pada setiap mata pelajaran. Materi pembelajaran yang berkaitan dengan norma atau nilai-nilai pada setiap mata pelajaran perlu dikembangkan, dieksplisitkan, dikaitkan dengan konteks kehidupan sehari-hari. Dengan demikian, pembelajaran nilai-nilai karakter tidak hanya pada tataran kognitif, tetapi menyentuh pada internalisasi, dan pengamalan nyata dalam kehidupan peserta didik sehari-hari di masyarakat.Pendidikan karakter mengemban dua tugas, yaitu megembankan kemampuan intelektual dan mengembangkan kemampuan moral. Pengembangan intelektual berorientasi pada terciptanya siswa yang memiliki kecerdasan dan ketajaman intelektual, sedangkan pengembangan kemampuan moral berorienasi pada terciptanya siswa yang memiliki integritas diri dan berkarakter kuat (Koesoema, 2007:118)Pada tataran sekolah, kriteria pencapaian pendidikan  karakter adalah terbentuknya budaya sekolah, yaitu perilaku, tradisi, kebiasaan keseharian, dan simbol-simbol yang dipraktikkan oleh semua warga sekolah, dan masyarakat sekitar sekolah harus berlandaskan nilai-nilai tersebut. Salah satu cara yang dapat dilakukan untuk menanamkan pendidikan karakter adalah melalui pembelajaran apresiasi sastra. Pembelajaran apresiasi sastra mampu dijadikan sebagai pintu masuk dalam penanaman nilai-nilai moral. Nilai-nilai moral, seperti kejujuran, pengorbanan, kepedulian sosial, cinta tanah air, psikologis, demokrasi, santun, dan sebagainya, banyak ditemukan dalam karya-karya sastra. Baik puisi, cerita pendek, novel, maupun drama. Hal ini tentu dapat dikaitkan dengan fungsi utama sastra yaitu memperhalus budi, peningkatan rasa kemanusiaan dan kepedulian sosial, penumbuhan apresiasi budaya, penyaluran gagasan, penumbuhan imajinasi, serta peningkatan ekspresi secara kreatif dan konstruktif.Pengertian sastraSastra adalah karya sastra dan kegiatan seni yang berhubungan dengan ekspresi dan penciptaan. Sastra bukanlah ilmu tetapi seni. Dalam seni banyak unsur kemanusiaan yang masuk, khususnya perasaan, sehingga sulit diterapkan untuk metode keilmuan. Hakikat sastra tidak bersifat universal dan abadi. Sastra tergantung pada tempat dan watu. Sastra merupakan suatu kegiatan kreatif, sebuah karya seni. Hakikat sastra selalu dikaitkan dengan ekspresi sastra, baik secara lisan maupun tulisan. Sastra sebagai suatu bentuk hasil budaya tidak terlepas dari kreasi penciptanya yang cenderung dinamis; dalam arti ekspresi sastra selalu memberi kemungkinan berubah dari zaman ke zaman. Dalam kurikulum disebutkan bahwa tujuan pembelajaran sastra dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia antara lain adalah menikmati dan memanfaatkan karya sastra untuk memperluas wawasan, memperhalus budi pekerti, serta meningkatkan pengetahuan dan kemampuan berbahasa. Melalui apresiasi sastra, siswa dapat mempertajam perasaan, penalaran, daya khayal, serta kepekaan terhadap masyarakat, budaya, dan lingkungan kehidupannya.Dalam setiap karya sastra terkandung tiga muatan: imajinasi, pengalaman, dan nilai-nilai. Melalui kegiatan apresiasi sastra, kecerdasan siswa dipupuk hampir dalam semua aspek. Apresiasi sastra melatih kecerdasan intelektual (IQ), misalnya dengan menggali nilai-nilai intrinsik dalam karya sastra, seperti tema, amanat, latar, tokoh, dan alur cerita. Juga mengembangkan kecerdasan emosional (EQ) siswa, misalnya sikap tangguh, berinisiatif serta optimis menghadapi persoalan hidup, dan sebagainya.Bahasan yang digunakan sastra untuk menyampaikan ajaran adalah bahasa yang telah diseleksi, dipilih dan tersusun secara indah. Sastra memberi ajaran-ajaran kebajikan sekaligus hiburan. Karya sastra yang baik dapat mengungkapkan hal-hal yang orang lain tidak bisa mengungkapkannyadan melihatnya, tidak bersifat menggurui. Di dalam karya sastra memang bisa ditemui adanya ajaran moral, tidak terikat oleh nilai-nilai dan fakta-fakta setempat, tetapi lebih bersifat universal. makin baik karya sastra, makin univesrsal masalah hidup yang diungkapkannya, tidak melodramatis, tidak mempunyai  kesan diatur-atur. harus menujukan kebenaran, keindividualan, dan keaslian.Fungsi sastra adalah dulce et utile, artinya indah dan bermanfaat. Dari aspek gubahan, sastra disusun dalam bentuk, yang apik dan menarik sehingga membuat orang senang membaca, mendengar, melihat, dan menikmatinya. Sementara itu, dari aspek isi ternyata karya sastra sangat bermanfaat. Di dalamnya terdapat nilai-nilai pendidikan moral yang berguna untuk menanamkan pendidikan karakter (Haryadi: 2011: 4).Sastra sebagai media pembentukan karakterKarya sastra berfungsi sebagai media katarsis. Aristoteles seorang filsuf dan ahli sastra menyatakan salah satu fungsi sastra adalah sebagai media katarsis atau pembersih jiwa bagi penulis maupun pembacanya. Bagi pembaca, setelah membaca karya sastra perasaan dan pikiran terasa terbuka, karena mendapatkan hiburan dan ilmu ( tontonan dan tuntutan )Karya sastra yang dipilih sebagai bahan ajar adalah karya sastra yang berkualitas, yakni karya sastra yang baik secara estetis dan etis. Maksudnya, karya sastra yang baik dalam konstruksi struktur sastranya dan mengandung nilai-nilai yang dapat membimbing siswa menjadi manusia yang baik. Adapun pemanfaatan secara ekspresif karya sastra sebagai media pendidikan karakter dapat ditempuh melalui jalan mengelola emosi, perasaan, semangat, pemikiran, ide, gagasan dan pandangan siswa ke dalam bentuk kreativitas menulis karya sastra dan bermain drama, teater, atau film. Siswa dibimbing mengelola emosi, perasaan, pendapat, ide, gagasan, dan pandangan untuk diinternalisasi dalam diri kemudian dituangkan ke dalam karya sastra yang akan mereka hasilkan berupa puisi, pantun, drama, novel, dan cerpen. Perasaan emosi, ketidakpuasan terhadap suatu sistem yang berlaku, rasa marah yang ingin berdemontrasi, dan sejenisnya terhadap sesuatu hal dapat diaktualisasikan dalam karya sastra, seperti puisi, drama, maupun prosa. Tentu saja dipilih media yang sesuai dan tepat untuk mengaktualisasikan “gejolak jiwa” siswa (bisa puisi, drama, cerpen, atau novel).Pembelajaran sastra diarahkan pada tumbuhnya sikap apresiatif terhadap karya sastra, yaitu sikap menghargai karya sastra. Dalam pembelajaran sastra ditanamkan tentang pengetahuan karya sastra (kognitif), ditumbuhkan kecintaan terhadap karya sastra (afektif), dan dilatih keterampilan menghasilkan karya sastra (psikomotor). Kegiatan apresiatif sastra dilakukan melalui kegiatan reseptif seperti membaca dan mendengarkan karya sastra, menonton pementasan karya sastra, produktif, seperti mengarang, bercerita, dan mementaskan karya sastra,dokumentatif, misalnya mengumpulkan puisi, cerpen, dan membuat kliping tentang infomasi kegiatan sastra.Pembentukan karakter anak melalui sastra anak tersebut tentu saja akan dilakukan dengan cara mengeksploitasi bahasa. Sementara itu, aspek kebahasaan yang dapat dikaji untuk melihat bagaimana sebuah teks, dalam hal ini, buku cerita mentransfer ideologi yang berlaku di dalam sebuah masyarakat kepada anak-anak sebagai target pembaca buku itu adalah struktur genre dan konfigurasi regist. Tarigan (1995: 5) mengakatakan bahwa buku anak-anak adalah buku yang menempatkan mata anak-anak sebagai pengamat utama, mata anak-anak sebagai fokusnya. Sastra anak adalah sastra yang mencerminkan perasaan dan pengalaman anak-anak masa kini, yang dapat dilihat dan dipahami melalui mata anak-anak. Produk sastra yang berupa puisi, cerpen, drama, maupun novel mengungkap berbagai tema yang berkaitan dengan hidup dan kehidupan manusia.Tema-tema produk sastra dapat dikelompok-kelompokkan untuk dijadikan media pendidikan karakter (secara reseptif), kemudian dibuat simulasi (metode latihan yang memperagakan sesuatu dalam bentuk tiruan yang mirip dengan keadaan yang sesungguhnya) di dalam kelas atau di luar kelas (bisa di halaman kelas, di auditorium, atau ruang pertemuan). Hal ini akan menarik bagi siswa dalam kaitannya dengan penanaman nilai-nilai karakter.Melalui karya sastra yang mengetengahkan berbagai tema, siswa dapat diajak untuk mengenali dan memahami kualitas tingkatan watak atau karakternya sendiri. Setelah siswa mengenali dan memahami kualitas tingkatan karakternya, maka guru harus membimbing atau mengarahkan kualitas tingkatan karakter siswa tersebut ke arah yang lebih baik, yakni mengajak siswa untuk “berdialog dengan tokoh-tokoh dalam karya sastra yang memiliki kualitas tingkatan karakter pada tataran “watak”. Dengan demikian, pembentukan karakter siswa terinternalisasi dalam diri siswa dan diaktualisasikan dalam perilaku seharihari mereka.Kesimpulan Berdasarkan pembahasan dalam penelitian yang diperoleh maka dapat disimpulkan bahwa :Pendidikan karakter adalah suatu sistem penanaman nilai-nilai karakter kepada warga sekolah yang meliputi komponen pengetahuan, kesadaran atau kemauan, dan tindakan untuk melaksanakan nilai-nilai tersebut, baik terhadap Tuhan Yang Maha Esa (YME), diri sendiri, sesama, lingkungan, maupun kebangsaan sehingga menjadi manusia insan kamil. Pembelajaran sastra dapat menjadi sarana yang efektif untuk pendidikan karakter. Karya sastra sebagai sumber pembelajaran sarat dengan nilai-nilai kehidupan yang menjadi inspirasi anak untuk melakukan moral positif. Melalui penggalian yang lebih intens, karya sastra akan membuat anak-anak lebih kaya, mengenal banyak karakter, mencintainya, dan mendorongnya untuk berbuat kebaikan.Karya sastra berfungsi sebagai media katarsis. Aristoteles seorang filsuf dan ahli sastra menyatakan salah satu fungsi sastra adalah sebagai media katarsis atau pembersih jiwa bagi penulis maupun pembacanya. Bagi pembaca, setelah membaca karya sastra perasaan dan pikiran terasa terbuka, karena mendapatkan hiburan dan ilmu ( tontonan dan tuntutan ).Pengaruh sastra dalam pembentukan karakter siswa tidak hanya didasarkan pada nilai yang terkandung di dalamnya. Pembelajaran sastra yang bersifat apresiatif pun sarat dengan pendidikan karakter. Kegiatan membaca, mendengarkan, dan menonton karya sastra padahakikatnya menanamkan karakter tekun, berpikir kritis, dan berwawasan luas.Melalui karya sastra yang mengetengahkan berbagai tema, siswa dapat diajak untuk mengenali dan memahami kualitas tingkatan watak atau karakternya sendiri.