Diah ABSTRACT: This research aims to describe the

Diah
Eka Octaviani1

Suparno2

Unversitas
Negeri Malang,
Jalan Semarang No 5 Malang

E-mail: [email protected]

   [email protected]
 

 

ABSTRACT: This research aims to describe the formation of verbs in the short story text of students’ work. The approach used in this research is qualitative, while the type of this research is descriptive research. The results of the study show that there are forty-seven formations of verbs with affixation, six verb formations with reduplication, and four compounded verb formations. Keywords: verb formation, short story text 

ABSTRAK: Tujuan penelitian ini adalah untuk
mendeskripsikan bentukan verba dalam teks cerpen karya siswa. Pendekatan yang digunakan di dalam penelitian ini adalah kualitatif,
sedangkan jenis penelitian ini yaitu penelitian deskriptif. Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa  terdapat empat puluh tujuh bentukan verba
dengan afiksasi, enam bentukan verba dengan reduplikasi, dan empat bentukan
verba dengan pemajemukan.

 

Kata Kunci: bentukan verba, teks cerpen

 

Kata merupakan salah satu unsur penting dalam penggunaan bahasa, salah
satunya pada proses pembuatan karya tulis. Kata dalam ragam bahasa mengalami
berbagai bentukan sehingga menghasilkan kelas kata yang berbeda-beda. Ada
banyak ragam kelas kata dalam bahasa Indonesia, salah satunya kata kerja. Kata
kerja berdasarkan bentukannya terbagi atas verba dasar bebas yang dapat berdiri
sendiri tanpa imbuhan dan verba turunan yang dibentuk lewat proses morfologis
(Arifin dan Junaiyah, 2009:102). Kata
kerja yang mengalami proses morfologis mempunyai potensi memperkaya
perbendaharaan kata bahasa Indonesia. Pembentukan kata kerja yang dibentuk
melalui proses morfologis mengalami perubahan yang berbeda-beda sesuai dengan
morfem yang mengikuti. Proses morfologi terdiri atas afiksasi,
reduplikasi, dan pemajemukan (Mulyono, 2013:77). 

 

1.       Diah Eka Octaviani adalah mahasiswa program studi
Pendidikan Bahasa, Sastra Indonesia dan Daerah di Universitas Negeri Malang

2.      
Suparno adalah
dosen di jurusan Sastra Indonesia Universitas Negeri Malang. Selain itu, beliau
sebagai dosen pembimbing  

Teks cerpen adalah karya fiksi yang berbentuk prosa naratif fiktif
tentang kehidupan manusia, terkadang peristiwa-peristiwa yang terjadi  hanyalah sebuah rekayasa oleh pengarang (Sumardjo,
2004:18). Teks cerpen memiliki karakteristik cerita yang tidak monoton serta disajikan
secara padat dan jelas. Hal tersebut sejalan dengan pendapat Tarigan
(2015:108) menjelaskan ciri utama cerpen adalah singkat, padu, dan intensif. Teks cerpen berkaitan erat dengan bahasa sebagai
mediumnya. Peran bahasa dalam teks cerpen sangat penting bagi pengarang untuk mengungkapkan
ide-ide kreatif. Menulis teks cerpen memerlukan keterampilan dalam merangkai
cerita, hal tersebut dikarenakan cerita dalam teks cerpen menentukan
kemenarikan pembaca. Bentukan kata kerja menjadi perbedaan yang menarik dalam
penulisan teks cerpen, dikarenakan setiap siswa memiliki cara penulisan
bentukan verba yang berbeda-beda. Siswa yang memiliki banyak perbendaharaan
kata, gaya penulisannya akan berbeda dengan siswa yang perbendaharaan kata
terbatas. Oleh karena itu, tidak menutup kemungkinan adanya cerpen yang
memiliki ragam bentukan kata kerja yang berbeda antara satu teks cerpen dengan
teks cerpen lain.

Penelitian lain sejenis
pernah dilakukan oleh Dian Risdiawati (2014) 
berjudul “Gaya Bahasa dalam Cerpen
Karya Siswa Kelas XII SMA Brawijaya Smart School (BBS) Malang Tahun Ajaran
2013/2014”. Persamaan penelitian ini terletak pada objek yang diteliti
yaitu, teks cerpen karya siswa. Perbedaan penelitian ini dengan penelitian
sebelumnya terletak pada fokus penelitian, yaitu gaya bahasa dilihat dari segi
penggunaan, fungsi, dan jenis dalam teks cerita pendek.  

Penelitian mengenai bentukan verba ini dilakukan untuk melihat
keragaman siswa dalam menulis teks cerpen. Keragaman tulisan siswa dapat
diketahui dari segi penggunaan bentukan verba yang bervariasi. Penelitian ini
dilakukan untuk mendeskripsikan bentukan verba yang terdapat dalam teks cerpen
karya siswa. Penelitian ini dapat dijadikan sebagai sarana pengetahuan siswa
terkait bentukan kata dalam pembelajaran Bahasa Indonesia. 

 

 

 

METODE

  Penilitian ini menggunakan pendekatan
kualitatif, dikarenakan data
penelitian diambil dari sumber data yang tidak berbentuk angka, yaitu bentukan
verba dalam teks cerpen karya siswa kelas XI SMK Negeri 2 Malang.
Desain penelitian yang
digunakan adalah penelitian deskriptif. Hal tersebut karena peneliti mendeskripsikan
bentukan verba dengan afiksasi, reduplikasi, dan
pemajemukan yang terdapat di dalam teks cerpen karya siswa. Kehadiran peneliti
dalam penelitian ini sangat penting, karena peneliti berperan sebagai pengamat dan menjadi instrumen
utama untuk mengumpulkan data. Lokasi penelitian dilakukan di SMK Negeri 2 Malang 
yang terletak di Jalan Veteran nomor 17 Malang.

Data yang digunakan adalah data verbal berupa
penggalan-penggalan kalimat atau gugus kalimat yang menggambarkan bentukan
verba dengan afiksasi, reduplikasi, dan pemajemukan. Data tersebut
kemudian dianalisis berdasarkan pedoman analisis data, sehingga diperoleh data
yang sesuai dengan fokus penelitian. Sumber data pada
penelitian ini adalah siswa kelas
XI UPW 2 dan XI KPR 1 SMK Negeri 2 Malang. Teks cerpen yang menjadi sumber data secara keseluruan berjumlah 27.
Sumber data dipilih dengan memperhatikan kriteria, yaitu terdapat identitas
siswa, menggunakan tulisan yang mudah dibaca, dan teks cerpen yang ditulis
minimal 2 lembar.

Teknik pengumpulan
data dalam penelitian ini adalah penugasan menulis teks cerpen. Penugasan menulis teks cerpen dilengkapi
dengan instrumen berupa panduan menulis.
Pengumpulan data ini
dilakukan dengan cara membagikan
lembar kertas folio dan panduan menulis teks cerpen, memberikan penjelasan terkait penulisan teks cerpen, memberi
kesempatan siswa menulis, mengumpulkan tugas menulis siswa, membaca teks cerpen
secara intensif untuk menemukan data bentukan verba sesuai dengan fokus
penelitian, dan memasukkan data bentukan verba pada tabel pengumpulan data.

Analisis
data yang digunakan adalah analisis komponensial untuk
menganalisis makna yang terdapat dalam kalimat. Kegiatan analisis data dilakukan dengan tiga
tahap. Pertama mereduksi data, pada tahap ini kegiatan yang dilakukan meliputi
identifikasi data, klasifikasi data, dan kodifikasi data. Identifikasi pada
penelitian ini berupa penggunaan bentuk verba dalam teks cerpen karya siswa,
selanjutnya data yang diperoleh dari identifikasi kemudian diklasifikasi sesuai
dengan fokus penelitian. Pengklasifikasian data berpedoman pada panduan bentuk
verba. Hasil analisis bentuk verba dalam teks cerpen karya siswa selanjutnya
dikodifikasi dengan pemberian kode sesuai dengan klasifikasi data. Kedua, penyajian data pada tahap ini
data yang telah direduksi kemudian data dianalisis dengan melihat panduan
analisis data, dan ketiga,
penyimpulan. Pada tahap penyimpulkan dilakukan bila peneliti sudah menemukan
dan melakukan instruksi pertama dan kedua, yaitu reduksi data dan penyajian
data. Kesimpulan tersebut ditarik sesuai dengan fokus penelitian berupa
bentukan verba dengan afiksasi, reduplikasi, dan pemajemukan.  Instrumen penelitian
ini terdiri atas panduan
analisis yang berisi petunjuk menganalisis data afiksasi, reduplikasi, dan
pemajemukan yang tediri dari analisis bentukan kata, proses morfofonemik,
perpidahan kategori, dan makna kata bentukan verba. Panduan tersebut dilengkapi
format penampungan data berupa tabel analisis yang terdiri atas empat kolom,
yaitu nomor, kode, aspek, deskripsi.

Pengecekan keabsahan
temuan dilakukan untuk menemukan hasil penelitian yang akurat. Cara untuk uji
keabsahan temuan dilakukan dengan tiga langkah yang ditempuh peneliti. Pertama, perpanjang pengamatan dilakukan dengan membaca teks cerpen secara
berulang-ulang. Kedua, melalui triangulasi untuk  mengecek keabsahan data. Teknik triangulasi
dilakukan dengan jalan memanfaatkan peneliti atau pengamat lain secara teoritis. Tahap ketiga, kecukupan refensial, peneliti berusaha melakukan kecukupan refensial
dengan membaca dan menelaah sumber-sumber data serta berbagai pustaka yang
relevan dengan masalah peneliti.

Pada penelitian ini,
ada tujuh tahap yang dilakukan peneliti untuk melakukan penelitian,
yaitu studi
pendahuluan, penentuan masalah, perancangan penelitian, pengumpulan data,
analisis data, rumusan hasil dan penyusunan laporan.

 

 

 

HASIL
DAN BAHASAN

Bentukan
Verba dengan Afiksasi

Berdasarkan analisis data diperoleh bentukan verba dengan afiksasi, bentukan verba dengan reduplikasi, dan bentukan
verba dengan pemajemukan. Bentukan
verba dengan afiksasi diperoleh empat puluh tujuh data berupa prefiks meN-, ber-, di-, ter-, serta konfiks ber-an, di-kan, meN-i, meN-kan, dan memper-kan. Bentukan verba dengan afiksasi  mengalami proses pembentukan kata dari bentuk
dasar, perpidahan kategori dari kata, proses morfofonemik, dan memiliki makna
kata sesuai dengan imbuhan yang melekat pada bentuk dasar. Bentukan verba dengan
prefiks meN- paling banyak ditemukan
dalam teks cerpen karya siswa, diperoleh tiga belas bentukan. Afiks merupakan
satuan gramatik terikat yang diletakkan atau diimbuhkan pada bentuk dasar untuk
membentuk bentuk dasar atau kata baru (Sumadi, 2012:76). Bentukan verba dengan
afiksasi merupakan bentukan verba yang paling banyak ditemukan dalam teks
cerpen karya siswa, yaitu empat puluh tujuh data. Putrayasa (2008:5)
menjelaskan bahwa hal tersebut terjadi karena bahasa Indonesia tergolong bahasa
bersistem aglutinasi. Sistem aglutinasi adalah sistem bahasa yang proses
pembentukan unsur-unsurnya dilakukan dengan cara menempelkan unsur atau bentuk
lainnya. Pada teks cerpen karya siswa bentukan verba dengan afiksasi mengalami
proses pembentukan kata secara bertahap atau dapat dipecah-pecah menjadi satuan
gramatik yang lebih kecil. Contoh data sebagai berikut.

 
Aku sudah mempersiapkan
sebuah hadiah untuk Bambam, mungkin hanya aku satu-satunya yang ingat hal ini
sejak dua hari lalu.

Dari kalimat tersebut, pembentukan kata mempersiapkan dapat dipecah menjadi satuan gramatik yang lebih
kecil, yaitu kata mempersiapkan
mendapat prefiks meN- pada bentuk dasar persiapkan, kemudian
bentuk dasar persiapkan mendapat afiks per-.
Bentuk dasar siapkan berasal dari bentuk asal siap yang mendapat afiks -kan. Kata mempersiapkan merupakan bentuk
komplek yang dapat dibagi lagi menjadi satuan gramatik lain yang lebih kecil.
Satuan gramatik yang digabungkan berupa afiks, sedangkan satuan gramatik yang
menjadi tempat menggabungkan satuan gramatik lain sehingga menjadi satuan
gramatik yang lebih besar disebut bentuk asal atau bentuk dasar (Sumadi,
2012:12). Bentukan verba dengan afiksasi yang terdapat dalam teks cerpen karya
siswa mengalami proses morfofonemik berupa perubahan fonem dan penambahan
fonem. Morfofonemik adalah perubahan-perubahan fonem yang timbul sebagai akibat
pertemuan morfem dengan morfem lain (Ramlan, 2009:43). Contoh data sebagai
berikut.

Tony melihat lampu-lampu di dalam toko
sudah padam namum pintunya tetap terbuka.

Kata kerja melihat
di atas mengalami proses morfofonemik berupa penghilangan fonem. Penghilangan
fonem /N/ pada afiks meN- terjadi
sebagai akibat pertemuan prefiks meN-
dengan bentuk dasar berupa konsonan /l/. Fonem /N/ pada morfem afiks meN- dan peN- akan mengalami penghilangan apabila bertemu dengan bentuk
dasar yang berawalan dengan fonem /l/, /r/, /y/, /w/, dan /nasal/ (Muslich,
2010:45). Proses pengimbuhan pada sebuah kata dasar bunyi nasal akan muncul
dengan perubahan dalam bentuk bunyi nasal yang homogram dengan fonem awal kata
dasarnya. Begitu pula, dengan pendapat (Putrayasa, 2008:11) menjelaskan prefiks
meN- berubah menjadi me- jika diikuti oleh bentuk dasar yang
bermula dengan fonem /l/, /m/, /n/, /ny/, /n/, /r/, /y/, dan /w/.

Bentukan verba berinfiks tidak ditemukan dalam
teks cerpen karya siswa. Putrayasa (2008:26) yang menyatakan bahawa dewasa ini,
infiks dalam bahasa Indonesia menjadi tidak produktif. Sumadi (2012:77) menjelaskan
bahwa dalam bahasa Indonesia jumlah infiks sangat terbatas. Afiksasi disertai
pula dengan perubahan kelas kata dari bentuk dasarnya (Sumadi, 2012:75).

Bentuk dasar yang dapat bergabung dengan imbuhan
dapat dikelompokkan atas empat kelas, yaitu bentuk dasar yang berkelas kata
kerja, kata benda, kata sifat, dan kata bilangan (Mulyono, 2013:69). Senada
dengan pendapat (Muslich, 2010:50) mengemukakan bentuk dasar yang bergabung
dengan afiks dikelompokkan atas empat kelas, yaitu kata kerja, kata sifat, kata
benda, dan kata bilangan. Bentukan verba yang terdapat dalam teks cerpen karya
siswa mengalami perpindahan kategori dari kata kerja, kata benda, dan kata
sifat menjadi kata kerja dengan perubahan bentuk dasar.

Bentukan
verba dengan afiksasi memiliki beragam makna. Ragam makna dalam bentukan verba
bergantung pada afiks yang melekat pada bentuk dasar. Apabila bergabung dengan bentuk dasar yang
berkelas verba afiks meN- mempunyai
makna melakukan sesuatu yang tersebut pada bentuk dasar, menjadikan seperti yang
tersebut pada bentuk dasar, berbuat yang seakan-akan seperti yang tersebut pada
bentuk dasar, membuat sesuatu yang berkaitan dengan bentuk dasar (Sumadi,
2012:83).

Bentukan Verba dengan Reduplikasi

Bentukan verba hasil proses reduplikasi tidak
banyak ditemukan pada teks cerpen karya siswa. Pada teks cerpen pemilihan kata
dibuat sedemikian menarik agar cerita tersebut banyak digemari (Yustina,
2013:6). Salah satu kata yang terdapat dalam teks cerpen karya siswa, yaitu
kata ulang. Sumadi (2012:126-127) mengemukakan kata ulang  dibedakan atas empat macam, yaitu kata ulang
utuh, kata kata ulang sebagian, kata ulang berimbuhan, dan kata ulang berubah
bunyi. Bentuk pengulangan verba yang ditemuan dalam teks
cerpen karya siswa, meliputi kata ulang sebagian dan kata ulang berubah bunyi.
Pengulangan kata sebagian berupa pembubuhan prefiks meN- dan ber- pada bentuk
dasar maupun bentuk asal. Bentukan verba dengan reduplikasi yang terdapat dalam
teks cerpen karya siswa mengalami proses morfofonemik berupa penghilangan
fonem. Contoh data sebagai berikut.

Emely hanya bisa meraba-raba rumput untuk mencari
barang yang selalu di bawa Reno.

Kata kerja meraba-raba
terbentuk dari proses penambahan prefiks meN- pada bentuk dasar raba, selanjutnya
bentuk dasar meraba mengalami proses pengulangan kata pada bentuk dasar. Kata meraba-raba mengalami perpidahan
kategori dari kata kerja menjadi kata kerja setelah mendapat setelah mendapat
imbuhan prefiks meN- dan {R}. Kata
ulang meraba-raba mengalami proses
berupa penghilangan fonem. Proses penghilangan fonem /N/ pada prefiks meN- terjadi sebagai akibat pertemuan
prefiks meN- dengan bentuk dasar
berupa konsonan /r/.  Prefiks meN- menjadi me- jika bentuk dasar yang diletakkan diawali dengan fonem konsonan
/y/, /r/, /l/, /m/, /n/, dan /ny/ (Mulyono, 2013:93). Bentukan verba dengan
reduplikasi yang terdapat dalam teks cerpen karya siswa mengalami pengulangan
kata sesuai dengan kata yang melekat pada awal kata, seperti kata benda
membentuk kata benda, pengulangan kata kerja membentuk kata kerja, dan
pengulangan kata sifat membentuk kata sifat pula (Suyanto dan Muslich,
1985:104). Begitu pula, dengan pendapat Soedjito dan Saryono
(2014:159) menjelaskan kata ulang adalah kata jadian yang terjadi dari
pengulangan bentuk dasar. Kelas kata ulang sama dengan kelas kata bentuk
dasarnya, seperti kata ulang berkelas kata verba, maka bentuk dasar kata ulang
tersebut berkelas kata verba. Kata ulang berkelas kata nomina, maka bentuk
dasar kata ulang tersebut juga berkelas kata nomina. Bentukan verba dengan reduplikasi memiliki makna
yang berbeda-beda sesuai dengan imbuhan yang melekat pada bentuk dasar. Apabila
bentuk dasarnya berkelas kata kerja, maka morfem ulang mempunyai beberapa
makna, yaitu tindakakn yang tersebut pada bentuk dasar dilakukan secara
berulang-ulang, tindakan yang tersebut pada bentuk dasar dilakukan secara
berulang, serta tindakan yang dilakukan oleh kedua pihak dan saling mengenai
(Muslich, 2010:89).

Bentukan Verba dengan Pemajemukan

Bentukan verba dengan pemajemukan ditemukan empat data dalam teks
cerpen karya siswa kelas XI SMK Negeri 2 Malang. Kaja majemuk yang ditemukan
dalam teks cerpen karya siswa merupakan gabungan dari bentuk bebas yang
meliputi gabungan bentuk dasar dengan bentuk dasar. Contoh data sebagai berikut.

Ayah bekerja di salah
satu perusahaan jual beli alat
elektronik di Jakarta.

Kata jual beli merupakan
kata majemuk yang berasal dari bentuk jual dan beli. Pembentuk kata jual beli di antara unsur tidak bisa disisipi satuan gramatik. Hubungan
di antara unsur kata majemuk sangat padu, sehingga tidak dapat disisipi satuan
gramatik yang lain (Sumadi, 2012:137). Kata majemuk jual beli merupakan
gabungan dari bentuk bebas yang meliputi gabungan bentuk dasar dengan bentuk
dasar. Warida
(2014:43) mengemukakan gabungan kata majemuk berupa gabungan bentuk bebas
dengan bentuk bebas, bentuk bebas dengan bentuk terikat, dan bentuk terikat
dengan bentuk terikat. Bentukan
verba dengan pemajemukan tidak mengalami proses morfofonemik.  Kelas kata bentuk pemajemukan dalam analisis
data semua berkategori kata kerja baik kedua unsurnya maupaun satu unsurnya. Didasarkan
pada kontruksi kelas katanya kata majemuk bahasa Indonesia dapat
diklasifikasikan berupa kata kerja-kata kerja, kata benda-kata benda, kata
sifat-kata sifat, kata benda-kata kerja, kata benda-kata sifat, kata kerja-kata
sifat, kata sifat-kata benda, kata kerja-kata benda, dan kata sifat-kata kerja
(Mulyono, 2013:63). Bentukan verba dengan afiksasi memiliki
beragam makna dan berbeda-beda
sesuai dengan imbuhan yang melekat pada bentuk dasar.

 

PENUTUP

Simpulan

Berdasarkan hasil analisis data dan bahasan dapat dipaparkan
kesimpulan, yaitu bentukan verba yang terdapat dalam teks cerpen karya siswa
kelas XI SMK Negeri 2 Malang sangat beragam. Bentukan verba tersebut terdiri
dari bentukan verba dengan afiksasi, bentukan verba dengan reduplikasi, dan
bentukan verba dengan pemajemukan. Pertama,
bentukan verba dengan afiksasi banyak ditemukan dalam teks cerpen karya siswa
kelas XI SMK Negeri 2 Malang. Bentukan verba tersebut terdiri dari prefiks meN-, ber-, di-, ter-, serta konfiks ber-an, di-kan, meN-i, meN-kan, dan memper-kan. Bentukan verba dengan prefiks meN- lebih dominan dalam teks cerpen karya siswa.  Bentukan verba dengan afiksasi mengalami
proses pembentukan kata secara bertahap atau dapat dipecah-pecah menjadi satuan
gramatik yang lebih kecil. Bentukan verba dengan afiksasi yang terdapat dalam
teks cerpen karya siswa tidak hanya satu kata dalam kalimat, namun dalam teks
cerpen karya siswa kelas XI SMK Negeri 2 Malang muncul penggunaan dua bentukan
verba dengan afiksasi. Bentukan verba dengan afiksasi mengalami proses
morfofonemik berupa penambahan fonem dan perubahan fonem. Bentukan verba dengan
afiksasi paling banyak ditemukan perpindahan kategori kata dari kata kerja
menjadi kata kerja setelah mendapat afiks pada bentuk dasar. Bentukan verba
dengan afiksasi memiliki beragam makna. Ragam makna dalam bentukan verba
bergantung pada afiks yang melekat pada bentuk dasar. Bentukan verba dengan
afiksasi paling banyak menggambarkan proses.  

Kedua, bentukan verba dengan reduplikasi yang ditemukan dalam teks cerpen
karya siswa kelas XI SMK Negeri 2 Malang ialah kata ulang sesungguhnya atau
kata ulang asli. Kata ulang sesungguhnya atau kata ulang asli yang ditemukan
meliputi kata ulang sebagian dan kata ulang berubah bunyi. Kata ulang sebagian
mengalami proses morfofonemik berupa penghilangan fonem. Pengulangan kata
mengalami perpindahan kategori dari kata benda dan kata kerja menjadi kata
kerja setelah mendapat afiks pada bentuk dasar. Bentukan verba dengan
reduplikasi memiliki variasi makna yang berbeda-beda.

Ketiga, Bentukan verba dengan pemajemukan yang terdapat dalam teks cerpen
karya siswa  kelas XI SMK Negeri 2 Malang
tidak banyak ditemukan. Kata majemuk yang ditemukan dalam teks cerpen karya
siswa merupakan gabungan dari bentuk bebas yang meliputi gabungan bentuk dasar
dengan bentuk dasar. Bentukan verba dengan pemajemukan tidak mengalami proses
morfofonemik. Kelas kata bentuk pemajemukan semua berkategori kata kerja baik
kedua unsurnya maupaun satu unsurnya. Bentukan verba dengan pemajemukan
memiliki variasi makna yang berbeda-beda.

 

Saran

Peneliti memberikan saran berdasarkan hasil penelitian bentukan verba
dalam teks cerpen karya siswa  kelas XI
SMK Negeri 2 Malang. Saran tersebut dijelaskan sebagai berikut.

Pertama, saran bagi guru Bahasa Indonesia agar memantapkan materi pembelajaran
terutama mengenai bentukan verba dan menyusun latihan-latihan bahan ajar lebih
bervariasi.

Kedua, kepada peneliti selanjutnya untuk mengembangkan penelitiannya secara
lebih menyeluruh seperti pembentukan verba dari ilmu sintaksis dan meneliti
tentang bentukan verba dengan subjek lain yang masih termasuk kalangan
akademik.

 

DAFTAR
RUJUKAN

Arifin, Z. dan Junaiyah. 2009. Morfologi (bentuk, makna, dan fungsi).
Jakarta: PT. Gasindo.

 

Mulyono, I. 2013. Ilmu Bahasa Indonesia Morfologi.
Bandung: CV YAMA WIDYA.

 

Muslich, Mansur. 20110. Tata Bentukan Bahasa Indonesia (kajian ke
arah tata bahasa deskriptif). Jakarta: Bumi Aksara.

 

Putrayasa, I.B. 2008. Kajian Morfologi (Bentuk Derivasional dan
Infleksional). Bandung: PT Refika Aditama.

 

Soedjito & Saryono, D. 2014. Morfologi Bahasa Indonesia. Malang:
Aditya Media Publishing.

 

Sumadi. 2012. Morfologi Bahasa
Indonesia. Malang: UM PRESS.

 

Sumajono, J.2004. Menulis Cerpen.
Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

 

Suyanto & Muslich, M. 1985. Tatas (Tata Bahasa Bahasa Indonesia dengan Sistem
Belajar Tuntas). Solo: Tiga Serangkai.

 

Warida, E. 2014.
Pedoman Kata Baku dan Tidak Baku.
Bandung: Ruang Kata Imprint Kawan Pustaka.

 

Yustina, R. 2013. Seluk Beluk dan Petunjuk Menulis Cerita Pendek. Yogyakarta:
Adicipta Karya Nusantara.